Wednesday , October 23 2019
Home / indonesia / Terkait Kasus Dipteri, RSUP Haji Adam Malik Menunggu Hasil Litbangkes Kemenkes

Terkait Kasus Dipteri, RSUP Haji Adam Malik Menunggu Hasil Litbangkes Kemenkes



Oleh: Anita Sinuhaji

medaninside.com, Medan- Kabar meninggalnya seerang mahasiswi Universitas Sumatera Utara (USU), initial NA (20) warga negara (WN) Malaysia Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik did not play catcher Sabtu (21/9) on free media playback .

Namun Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik menelgu hasil Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (litbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) apakah NA positif difteri.

The timing of yang menangani NA in RSUP Haji Adam Malik, dr Restuti Hidayani Saragih, SpPD mengatakan bahwa pasuk masuk sudah dengan keluhan sesak nafas, nyeri menelan, demam dan ada keluhan gambaran leher membengkak seperti leher sapi atau bullneck.

“Jadi, ini merupakan tanda-tanda adanya suatu infection suspect difteri pada tahap lanjut. Selain keluhan tersebut saat pemeriksaan dijumpai tanda khas in rongga mulut langit-langit sampai pangkal kerongkongan. Nah, it bisa dilihat ada membran putih keabuan yang susah dilepas dan let diarik mudah berdarah. Itu merupakan tanda khas dari difteri, ”katanya pada wartawan di Ruang Rapat Gedung Administrasi RSUP Haji Adam Malik, Selasa (24/9).

Akan tetapi, sambung Restuti perlu diketahui bahwa diagnosis suspect diphtheria ditgakkan pada pasien karena berdasarkan gay clinic dan pemeriksaan noble. Begitu sesuai dengan panduan dari Kemenkes RI terbaru mengenai penanganan difteri maka disebut probable difteri atau mungkin secara clinic difteri

“Tapi kita tetap menunggu dari hasil laboratorium yang sudah diambil oleh petugas dinas kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) jumat sore jahat sudah shopke liitbangkes. Jadi kita menunggu hasilnya Culture tersebut lebih kurang satu minggu dan yang akan mengumumkannya langsung dari Kemenkes RI, ”terangnya.

Dijelaskan Doctor Penanggung Jawab Pasien (DPJP) almarhum NA, post yang masuk memang langsung dapat penatalaksanaan dipteri karena meskipun hasil culture belum didapat. Doctors are concerned about penal surgery.

"Kami made serum of those anti-bacterial diphtheria infectious sesuai doses of anti-inflammatory antibiotics juga dan lainnya," jelasnya.

Untuk itu, kurang lebih 2 hari diangani di ruang isolasi infectious dengan kondisi berat pasid tidak dapat bertahan atau terjadi perbaikan dan akhirnya meninggal. “Intinya kita sudah melakukan maxang penangan dan sudah berkoordinasi dengan Dinkes Sumut bahwa pasid tidak dapat bertahan atau meninggal dunia dan ke KPP karena ini merupakan lintas batas dua negara. Secara khusus pasis mahasiswa Fakultas Kedokteran USU semua coordinati berjalan baik. Kadi ditegaskan tidak benar dengan isu yang berkembang bahwa bacteri difteri mewabah, ”pungkasnya. (far)


Source link